BERITA & TULISAN
Kategori :

Sarjana Kertas dan Generasi Penerus Kepemimpinan Bangsa

14/02/2017     Artikel         Administrator

Annisa Anita D. | 14/02/2017 | Informasi, Lain-lain | No Comments  

 

Mahasiswa sebagai calon sarjana merupakan Iron Stock (generasi penerus) kepemimpinan bangsa, harus sadar secara fisik & mental, bahwa dirinya akan menggantikan orang tuanya di berbagai sektor kehidupan berbangsa di Indonesia. Dintaranya; sektor Pendidikan, Ekonomi, Politik kebudayaan, dan lain sebagainya. Hal ini bukan hanya harus diketahui, tapi juga di rasakan, di jiwai.

Nilai-nilai sebagai generasi penerus harus dibentuk sejak awal pengembanan siswa memperoleh gelar mahasiswa, mahasiswa harus dibekali dengan prinsip-prinsip kehidupan yang kokoh. Tujuannya tentu saja sebagai pondasi, bahwa tugasnya di masa yang akan datang lebih rumit dibandingkan tugasnya hari ini.

Dalam hal ini, kampus telah terlibat sangat intim dengan melabelkan mahasiswa gelar sarjana, ijazah dan nama Universitas yang terkesan hebat untuk hal yang tidak mampu mahasiswa kontribusikan kepada lapangan pekerjaan tujuannya (sekolah).

Banyak orang tua & mahasiswa yang masih beranggapan bahwa sebuah label akan bekerja untuknya, misalnya lulusan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) akan lebih mudah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Atau lulusan UPI lebih unggul di bandingkan lulusan Universitas Swasta, sehingga lebih mudah diterima, bila mau mengajar di sekolah swasta. Serta anggapan-anggapan lain yang menganggap bahwa label kampus akan menolong hidup mahasiswa tersebut. Salah besar.

Bila melihat fakta terkini, ribuan sarjana Universitas Negeri hanya menganggur dan kembali ke kampung halaman. Berpindah haluan dari jurusan ini, bekerja di jurusan itu. Hingga fenomena lainnya yang menunjukkan bahwa label itu tidak penting, yang terpenting adalah soft skillnya.

Mempunyai nilai A dalam mata kuliah simulasi mengajar, tapi ketika di kelas yang sebenarnya, menghadapi anak yang bandel berantem, kita nya justru yang menangis. Mendapat nilai A dalam Psikologi Pendidikan, ketika menghadapi anak yang mengalami kesulitan dalam membaca, kita malah menyalahkannya. Sehingga meimbulkan kontroversi di dalam dunia kerja kependidikan, kita sarjana dan mendapat nilai yang bagus dinilai berdasarkan teori semata? Lalu, Apakah layak bila kita dipanggil sarjana kertas saja?

Jangan sampai, lulusan UPI hanya menjadi sarjana kertas. Apakah itu? Yaitu manusia-manusia yang cenderung pandai, namun fokusnya adalah buku teks. Memindahkan buku teks, ke kertas ujian. Jadi pintarnya itu adalah pintar kertas, dan sangat mungkin sarjananya adalah sarjana kertas.

Oleh karena itu, sebagai generasi penerus kepemimpinan bangsa, kita harus menghidupkan simpul-simpul berpikir, agar kelak mampu berpikir sistemis dan mengeksplorasi ilmu pengetahuan secara mandiri. Penekanannya, ilmu pengetahuan akan hidup dalam mental yang siap mengahadapi tantangan.

Anehnya, ketika kuliha dulu, saya justru lebih mendapatkan nilai berpikir itu di dunia organisasi. Lawan berpikir aktivis mahasiswa adalah pembimbing mahasiswa, yang pada saat itu di emban oleh Bapak Dindin Abdul Muiz L. S.Si, SE, M.Pd (semoga gak salah nulis) J.  

Pada saat itulah terbentuk tentang ilmu kepemimpinan yang lebih universal, berpikir nalar, litheral thinking, dan tentu saja mentalitas sebagai mahasiswa. Ketika berdiskusi dengan beliau, di sebuah ruangan, tapi pemikiran bebas berkeliaran. Menurut saya, disinilah mental saya mulai terbentuk sebagai mahasiswa. Cieee, nuhun pa Din.

Lalu bagaimana memulai, melatih, kemudian mengembangkan mentalitas tersebut? Hal pertama yang harus dilakukan adalah menghilangkan label sarjana kertas dalam diri kita. Belajar dengan memusatkan energi pada hal yang mengasah soft skill kita, untuk bekal berkompetisi di masa depan. Saya memfokuskan energi ke dunia usaha, oleh karena itu saat ini saya hidup dengan bekal itu, membangun www.amilyhijab.com bersama istri.

Kita harus terbiasa dengan deadline, sehingga tak ada waktu untuk duduk diam. Sudah cukup kita menjadi anak muda yang konsumtif, mulailah melahirkan karya-karya untuk kemajuan bangsa kita. Kalau yang ini, saya sering mengambil jatah 2 kali tidak masuk mata kuliah untuk mengikuti seminar di luar kota berhari-hari. Tapi bolosnya, mohon jangan ditiru oleh mahasiswa. Nanti di baeudan dosen.

Dominasi teknologi jepang, produk sehari-hari amerika, hingga otomotif jerman harus membuat mata mahasiswa UPI Tasikmalaya terbuka. Bahwa tugas semakin berat, mengubah mentalitas anak muda kita tidaklah mudah. Tapi tidak mudah bukanlah tidak mungkin, masih ada waktu untuk kita berbenah dan membuat perubahan. Berkarya, untuk membuat diri kita layak digelari mahasiswa dan menjadi generasi penerus kepemimpinan bangsa, selalu ingat bahwa “bila bukan kita, lalu oleh siapa?”.

(Ilham Mauluddin, Alumni PGSD UPI Kampus Tasikmalaya, Owner Amily Hijab)









Pengumuman Lainnya »

Berita & Tulisan Lainnya

Eko Purwanto : Guru Melek Teknologi yang jadi Wakil Indonesia di Pentas Dunia

Sebagai guru muda, Eko Purwanto tidak mendapat banyak jatah pelatihan dari sekolah atau dinas ...

MAHASISWA KKN 19 UPI PURBARATU MERINTIS POSDAYA BAROKAH BERSAMA WARGA RW 09 KELURAHAN SINGKUP

Annisa Anita D. | 23/08/2017 | Informasi, Lain-lain | No Comments   Tasikmalaya, UPI Pada Jumat (18/08/2017) telah ...

« Berita & Tulisan Lainnya »

Alamat & Kontak

  • Alamat :
    Jalan Dadaha Nomor 18 Kota Tasikmalaya, Kode Pos 46115
  • Tlp/Fax :
    (0265) 331860 / (0265) 331860
  • Email :
    pgsd_tasik@upi.edu