BERITA & TULISAN
Kategori :

Membangun Intelektualisme Indonesia

10/01/2020     Artikel         Administrator

Kewajiban membuat tulisan dalan jurnal internasional bereputasi harus didukung salah satunya dosen mauuapun mahasiswa diwajibkan untuk mempublikasikan tulisan (artikel) pada publikasi internasional terindeks “Scopus, Thomson, dan Scimago”. Pertanyaannya, “Mengapa itu harus ‘Scopus, Thomson, dan Scimago’?” Tanpa disadari,kebijakan ini menempatkan kaum intelektual Indonesia pada posisi “kurang terhormat” pada level internasional. Hal tersebut juga memfasilitasi tumbuh kembang kolonialisasi intelektual dan pengabaian nasionalisasi bangsa Indonesia.

Terdapat sejumlah alasan perlu dijadikan pertimbangan sekaitan dengan hal tersebut. Pertama, lembaga indeks tersebut menjadi bagian dari kapitalisasi intelektualisasi pendidikan. Terbukti bahwa kita harus membayar kepada mereka. Selain harus membayar, kita harus menyerahkan hasil penelitian kita kepada mereka. Kita sebagai peneliti dengan biaya tidak sedikit dan beban kinerja tidak ringan selanjutnya mereka menjadi penerima dan pemanfaat hasil penelitian tersebut.

Kedua, demi alasan pragmatis; seperti kenaikan pangkat, pemenuhan syarat akademik, maupun angka kredit untuk sertifikasi, kita sebagai kaum intelektual terjebak pada “percaloan”, bahkan korban dengan jurnal “internasional predator”. Para intelektual kita diharuskan untuk membayar ribuan dollar atau jutaan rupiah agar artikel atau tulisannya dipublikasikan pada jurnal internasional tertentu, namun kenyataannya menajdi korban dari predator maupun percaloan. Artikel tersebut tidak kunjung dipublikasikan atau terbit dalam jurnal “abal-abal”.

Ketigam ketidak-adaan perlawanandari kaum intelektual bangsa Indonesia terhadap kebijakan tersebut. Sehingga penguasaan kaum kapitalisme intelektual tersebut semakin berkuasa. Pertanyaannya “Mengapa kaum intelektual Indonesia tidak melakukan perlawanan? Mengapa kita sebagai bangsa Indonesia tidak memulai untuk membangun system indeks dengan berkualifikasi internasional?”

Berlandas-tumpukan kepada alasan tersebut, kaum intelektual Indonesia memiliki potensi untuk membangun system indeks internasional selain indeks nasional. Kita memiliki “Sumber Daya Manusia, Sumber Dana, dan Sumber Daya Intelektualitas” untuk membangun system indeks jurnal. Kita memiliki peluang sama untuk menjadi competitor dalam level internasional. Oleh karena itu, kita harus memulai saat ini membangun intelektualisme Indonesia tersebut. Kita harus membangun optimisme positif bahwa kaum intelektual Indonesia memiliki kesetaraan kualitas pada level nasional maupun internasional dalam berkarya ilmiah. (Dian Indihadi)

 







Berita & Tulisan Lainnya

Lulusan Terbaik UPI Tasikmalaya 2017

Annisa Anita D. | 04/09/2017 | Informasi, Lain-lain | No Comments   Tasikmalaya, UPI   Rizki Siddiq Nugraha, lahir ...

Lesson Study PPL UPI Kampus Tasikmalaya di SD Labschool

Annisa Anita D. | 02/04/2018 | Informasi, Lain-lain | No Comments    Tasikmalaya, UPI   Selasa (27/03/2018) telah dilaksanakan ...

« Berita & Tulisan Lainnya »

Alamat & Kontak

  • Alamat :
    Jalan Dadaha Nomor 18 Kota Tasikmalaya, Kode Pos 46115
  • Tlp/Fax :
    (0265) 331860 / (0265) 331860
  • Email :
    pgsd_tasik@upi.edu