BERITA & TULISAN
Kategori :

KULIAH DI KAMPUS PENCETAK GURU, SUDAH BENARKAH?

15/09/2016     Artikel         Administrator

Sesaat sebelum memilih untuk memasuki jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), seorang paruh baya berbisik, “ daftarlah ke kampus PGSD. Dengar-dengar, tahun-tahun ini akan banyak pension massal. Barangkali, di sana ada banyak peluang untuk menjadi seorang Aparatur Sipil Negara (ASN).”

(sumber foto: http://www.jpnn.com/read/2016/09/07/465790/Katanya-Siap-Jadi-Guru-Tapi-Kok-Malas-Mengajar-)

Begitulah kasuistik bagi sebagian mahasiswa sehingga akhirnya berlabuh di kampus dengan program studi PGSD. Memang, dengan tujuan seperti itu, tidak salah-salah juga. Toh, menurut Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI), Sulistiyo, Indonesia memerlukan tambahan 400.000 orang guru tingkat Sekolah Dasar (SD). Namun, bila merujuk kepada aliran pragmatism dimana aliran ini berbicara dengan patokan “manfaat bagi hidup praktis”, secara tidak langsung calon guru-guru SD ini diinfiltrasi dengan kebutuhan-kebutuhan kondisi jangka dekat. Menjadi guru akhirnya dipandang hanya sebagai suatu pekerjaan, tak ubah dengan pekerjaan lain.

Berpikir bahwa menjadi guru sebagai suatu pekerjaan pun sebenarnya tidak salah-salah juga. Toh, menjadi guru digaji. Meskipun beragam, antara yang dikatakan junior atau senior, atau yang sudah sertifikasi dan yang belum, atau juga yang sudah ASN atau masih menjadi sukarelawan, besaran gaji sepertinya menjadi semacam kasta untuk melihat sejauh mana idealism seorang guru tersebut mengajar. Meskipun akhirnya hari ini, setelah guru dicanangkan sebagai suatu professi pada tahun 2004, apa yang disebut economic scarcity dan isolated proffesion yang dinyatakan oleh Ernest House sudah semakin tidak berlaku bagi guru.

Namun, bila hanya berpikir akan menjadi seorang ASN, saya rasa terlalu kecil bagi seorang mahasiswa calon guru memiliki paradigma seperti itu. Mengapa? Karena guru bukan hanya sekedar profesi, tidak hanya berbicara tentang untung rugi, apalagi yang dihadapi adalah manusia yang memiliki beragam potensi, bukan sekedar mesin potong bergergaji.

Lantas, mahasiswa perlu bagaimana?

Setidaknya, dua hal yang perlu menjadi catatan.

Pertama, semenjak awal, mahasiswa calon guru perlu merasakan bahwa tujuan utama menjadi seorang guru adalah menemukan keberkahan. Keberkahan yang memang tidak dapat diukur dengan logika. Keberkahan yang akhirnya membawa seorang guru dapat bergelar haji meski gaji pas-pasan untuk makan dan minum secangkir kopi. Bahkan, sebaiknya itu disampaikan oleh pihak perguruan tinggi yang tergabung dalam Lembaga Pencetak Tenaga Kependidikan. Ya, minimal, dengan surat pernyataan bahwa berkuliah di kampus LPTK adalah karena niat yang lurus mencari keberkahan. Bisakah?

Kedua, menikmati kuliah selama kurang lebih 8 (delapan) semester, dengan tekad untuk lebih mencintai profesi sebagai seorang guru. Delapan semester bukan waktu yang sebentar bila hanya berpikir untuk menjadi cara mempersiapkan pekerjaan. Tapi, akan menjadi sangat bermakna ketika setiap semester yang dilalui oleh mahasiswa calon guru dimaknai sebagai jalan untuk mencintai profesi sebagai seorang guru.

Sehingga, tidak salah barangkali bila saya menyebutkan profesi guru adalah profesi untuk manusia berdimensi akhirat. Manusia-manusia ikhlas yang siap mencetak generasi-generasi pembaharu. Laiknya KH Ahmad Dahlanataupun KH Hasyim Asy’ari saat mengawal perjuangan menuju kemerdekaan.

Bila dua hal tersebut mampu dipenuhi oleh seorang mahasiswa calon guru, di luar keterampilan ataupun kemampuan yang diberikan semasa perkuliahan, saya yakin akan mampu melahirkan guru-guru yang berkualitas. Dan pada akhirnya, karir selepas kuliah dan menjadi guru adalah karir kebanggaan.

Lantas bagaimana dengan kasuistik di awal artikel ini?

Adapun tentang fenomena pension massal yang akan terjadi, baiknya kita pandang itu sebagai bagian dari bonus. Data saat ini, dari sekitar 2.9 juta guru yang ada di Indonesia, sekitar 1 juta guru masih berstatus guru wiyata bakti atau belum guru tetap. Belum lagi, perhitungan mahasiswa calon guru SD yang fresh graduate yang berasal dari perguruan tinggi negeri dan swasta yang mulai menjamur membuka prodi PGSD. Lalu, dimana kartu antri kita disana?

Mari belajar mencintai profesi sebagai seorang guru. Mencintai yang tidak perlu prasyarat. Dan mulai sedari dini, mempersiapkan peran sebagai mahasiswa calon guru SD dengan baik.

 

(Rijal Muharram)

 







Pengumuman Lainnya »

Berita & Tulisan Lainnya

Aksi Book Rangers dari Tasikmalaya untuk Indonesia

Annisa Anita D. | 28/08/2017 | Informasi, Lain-lain | No Comments   Tasikmalaya, UPI   Taman baca masyarakat (TBM) ...

Pelatihan Pembelajaran Materi ke SD-an Berbasis Laboratorium

Annisa Anita D. | 15/05/2017 | Informasi, Lain-lain | No Comments   Tasikmalaya, UPI Laborty Universitas Pendidikan ...

« Berita & Tulisan Lainnya »

Alamat & Kontak

  • Alamat :
    Jalan Dadaha Nomor 18 Kota Tasikmalaya, Kode Pos 46115
  • Tlp/Fax :
    (0265) 331860 / (0265) 331860
  • Email :
    pgsd_tasik@upi.edu