BERITA & TULISAN
Kategori :

Kebaikan, Kehidupan, dan Kematian

23/04/2017     Berita         Administrator

Annisa Anita D. | 23/04/2017 | Informasi, Lain-lain | No Comments

 

Bandung, UPI

Manusia lahir meniti hidup satu per satu. Demikian halnya ketika berhadapan dengan kematian. Seperti ungkapan Pramoedya Ananta Toer dalam Bukan Pasar Malam, "Di dunia ini,  manusia bukan berduyun-duyun lahir dan berduyun-duyun pula kembali pulang. Seorang-seorang mereka datang.  Seorang-seorang mereka pergi. Dan Prof. Furqan,  M.A., Ph. D., Rektor UPI,  telah pergi untuk selamanya pada 22 April 2017, di kota Bandung ini.

Di kota kembang ini pula,  kudengar kabar duka ihwal kepergiannya. Tepatnya, saat mengikuti sebuah kegiatan pelatihan yang ditugaskan lembaga. Padahal, tak setiap hari aku bertugas di Bandung,  karena homebase atau unit kerjaku di kampus daerah, tepatnya di UPI Kampus Tasikmalaya. Karena itu,  aku memiliki kesempatan untuk takziah, bertemu jasad almarhum untuk terakhir kalinya.

Kebetulan pula Ari Rakhmat Riadi -kawan seangkatan waktu diangkat PNS dan kini bertugas di FIP- juga mengikuti kegiatan yang sama. Sekitar tengah hari, saat jeda acara, kami bersepakat menuju rumah duka. Istrinya, Sri Hasti Gustria yang alumni Prodi BK, beserta tiga anak mereka juga turut serta.

Tiba di rumah duka telah banyak orang yang berkumpul di tenda,  di halaman rumah. Aku sendiri langsung menuju ruang utama. Kudapati jasad almarhum telah terbungkus kain kafan. Orang-orang bicara perlahan. Sesekali isak tangis terdengar. Ada pula ucapan-ucapan duka cita serta ujaran lirih doa-doa.

Ibu Nunung, istri almarhum, dikelilingi banyak orang. Aku menyelinap ke belakang,  menenangkan diri dan mengambil air wudhu. Kembali ke ruang depan,  kuhampiri jasad almarhum yang seakan diliputi lengang, kubacakan doa-doa dengan hati gentar. Waktu terasa berhenti.

Lalu,  aku mundur, memberi ruang untuk orang-orang yang sesekali berlalu-lalang. Mengambil jarak sekitar dua langkah dari jasad,  aku bersandar pada dinding. Dengan membuka telepon seluler,  lamat-lamat kulantunkan ayat-ayat suci Alquran. Menjelang jasad dihantarkan ke mesjid untuk disholatkan,  ayat terakhir kubacakan.

Dari rumah duka,  aku pun beranjak ke rumah Tuhan. Ke mesjid yang namanya persis sama dengan almarhum. Menempatkan diri di barisan pertama, di antara para mahasiswi yang telah duduk rapi. Beberapa wajah mereka kukenali. Mereka mahasiswiku sendiri, yang sepertiku,  awalnya datang untuk suatu acara. Lalu turut mengambil tempat di masjid ini.

Tak lama kemudian, keranda tiba. Saat itu menjelang asyar. K. H. Abdullah Gymnastiar menyampaikan ayat dan kalimat ihwal kematian dan kehidupan yang saling berkelindan. Bahwa maut pasti menjemput,  bahwa kematian adalah keniscayaan, bagi setiap orang.

Adzan ashar pun berkumandang. Entah mengapa,  lantunannya sedemikian mengoyak perasaan. Ada haru yang menyeru. Ada getir yang gigir.

Sholat ashar pun didirikan, diikuti dengan sholat jenazah kemudian. Doa-doa mengalir di penghujungnya.

Aku pun mengenang, baru sepekan lalu,  beliau ke kampus Tasikmalaya, menandatangani MoU dengan walikota, memberikan kuliah umum, serta meresmikan gedung pusat kegiatan mahasiswa.

Terlintas pula banyak kegiatan yang memungkinkan kami berinteraksi, baik akademik maupun non-akademik. Sebagai akademisi, beliau kerap menyampaikan hal rumit menjadi sederhana, membuat hal pelik menjadi mudah untuk dipahami. Beliau juga motivator bagi para dosen muda untuk selalu meningkatkan kapasitas diri. Sebagai pribadi beliau sosok yang rendah hati sekaligus pemurah. Pengalamanku dulu mencatat kemurah-hatiannya.

Dulu, ketika belum banyak beasiswa seperti sekarang, aku bekerja di tiga tempat untuk membiayai kuliah jenjang S-2. Salah satunya bekerja paruh waktu di Senat Akademik (SA). Saat itu, beliau menduduki jabatan Direktur Sekolah Pascasarjana. Sebagai anggota ex officio SA,  beliau juga diamanahi menjadi Sekretaris Komisi C SA, saat itu Ketua Komisinya Prof. Dr. Nenden Lengkanawati,  M. Pd. (anggota ex officio SA karena menduduki jabatan Dekan FPBS waktu itu) Kadang-kadang aku ditugaskan mengantarkan honorarium kepada beliau berdua. Ke gedung FPBS dan ke gedung SPs. Pulang dari sana,  biasanya senyumku merekah. Masing-masing memberiku uang jajan -uang kertas dengan nominal 50 ribu rupiah-. Saat itu,  cukup bagiku untuk menyambung hidup sepekan. Di titik itu, di saat-saat sulit, beliau telah menjadi salah satu, dari sekian banyak kebaikan yang kuterima dalam kehidupan. Mataku berkaca-kaca. Beliau telah sampai di ujung kehidupannya.

Mengingat kehidupan, kembali sadar akan keadaan sekarang. Aku teringat pada titipan pesan yang harus kusampaikan. Menyibak orang-orang,  aku menuju ke tempat Ibu Nunung di tengah-tengah ruangan, menyampaikan  amanat, menyampaikan ucapan duka cita,  dan sekaligus mohon diri berpamitan.

Telah kutunaikan bakti dan penghormatan terakhirku dengan doa, lantunan surat yasin,  dan mendirikan sholat jenazah. Selamat jalan Prof.  Furqan, M.A., Ph.D.  semoga segala kebaikan menjadi jalan kelapangan di alam berikutnya, aamiin.

(Seni Apriliya, Bandung-Tasikmalya)







Pengumuman Lainnya »

Berita & Tulisan Lainnya

Workshop

Annisa Anita D. | 27/07/2016 | Informasi, Kerjasama, Lain-lain | No Comments Tasikmalaya, UPI Selasa (26/7) ...

Gerakan Mencuci Tangan Bersama KKN UPI

Annisa Anita D. | 14/08/2017 | Informasi, Lain-lain | No Comments    Tasikmalaya, UPI Jumat (11/08/2017) mahasiswa KKN ...

« Berita & Tulisan Lainnya »

Alamat & Kontak

  • Alamat :
    Jalan Dadaha Nomor 18 Kota Tasikmalaya, Kode Pos 46115
  • Tlp/Fax :
    (0265) 331860 / (0265) 331860
  • Email :
    pgsd_tasik@upi.edu