BERITA & TULISAN
Kategori :

Fenomena Legalisir

08/02/2018     Artikel         Administrator

Annisa Anita D. | 08/02/2018 | Informasi, Lain-lain | No Comments 

 

Tasikmalaya, UPI

 

Tulisan ini diinspirasi oleh peristiwa di sebuah ruang tunggu. Salah seorang penunggu menyatakan:" abdi teh mios ti lembur bada subuh, ayeuna parantos bade jam dua, abdi masih kedah nungguan nu nawis na". Ternyata dia salah seorang guru dari para guru (penunggu) di ruang tersebut. Benar; kehadiran mereka di sana menunntut pengorbanan. Tidak saja pengorbanan waktu, biaya dan kelelahan jiwa raga, mereka jagu sedah mengorbankan  peserta didik di kelas. Mereka tidak melaksanakan pembelajaran sebagai tugas dan tanggung jawab karena para guru berada di ruang tunggu. Pasi; fenomena tersebut terjadi tidak di satu tempat, dan terjadi pengulangan fenomena tersebut sampai saat ini

Legalisir menjadi penyebab utama dari fenomena pengorbanan para guru sebagai pendidik profesional.  Legalisir tidak saja dipandang sebagai bukti pengakuan atau pengesahan sebuah berkas (dokumen) sesuai dengan undang-undang atau hukum. Legalisir saat ini menjadi "hajat hidup" dan "nasib kehidupan" seseorang. Dengan legalisir, setiap orang memperoleh nalai tambah serta kesejahteraan material; tidak saja para guru. Tetapi di balik itu, fenomena lagilisir mengindikasikan kondisi konflik profesionalitas, dan ketidak percayaan antar lembaga (institusi) pelayanan publik.

Apabila fenomena tersebut dianalisis secara kronologi, setiap guru sudah melengkapi dokumen persyaratan administrasi, sejak guru itu diangkat. Data dari dokumen tersebut sudah dinyatakan lengkap sesuai dengan undang-undang maupun peraturan, sehingga keberlakuan pengakuan atau pengesahan  data dari dokumen tidak berubah. Perubahan data pada dokumen terjadi, apabila ada dokumen baru, namun data dokumen awal dipastikan tidak mengalami perubahan. Data dokumen pada ijazah, sertifikat pelatihan, surat keterangan dari lembaga (institusi) resmi tidak mungkin berbeda dengan data dokumen awal, sehingga legalitasnya berlaku ke masa datang. Jadi legalisir terhadap dokumen tersebut tidak diperlukan, jika data dokumen awal sudah dinyatakan sah dan legal.

Apabila fenomena legilisir dianalisis dan diaudit berdasarkan profesionalisme kinerja aparat, para tenaga kependidikan maupun tenaga kearsipan, fenomena tersebut mengindikasikan suatu kegagalan kinerja mereka. Kecermatan dan ketelitian kinerja mereka dalam mengolah dan mengelola data dokumen para guru dipertanyakan;"apakah mereka tidak cermat dan teliti dalam mengaudit dan melegalisasi setiap data dokumen dari persyaratan para guru?" Akibatnya, guru harus melengkapi data dokumen sampai saat ini. Ternyata fenomena melengkapi dokumen persyaratan kepegawaian secara terus menurus: setiap bulan, setiap semester, setiap tahun dan setiap pergantian pangkat maupun jabatan, terjadi hanya di lembaga atau institusi pendidikan. Apabila itu dibandingkan dengan lembaga atau institusi lain, maka jelas hal tersebut membuktikan ketidak profesionalan mekanisme tata kelola dan profesionalis aparat.

Kecanggihan teknologi dan program pengolah maupun pendokumentasian data saat ini dapat diperoleh dengan mudah. Para tenaga ahli di bidang teknologi informasi dapat mengerjakan ihwal pengolahan dan pendokumentasian data para guru dari awal diSKan sampai saat ini. Validitas dan keakurasian datapun dari hasil pengolahan dapat dipertanggung jawabankan secara akuntabel dan transfaransi. Oleh karena itu, fenomena legalisir untuk data dokumen para guru dapat disolusikan dengan pemanfaatan kecanggihan teknologi, maupun para tenaga ahli di bidang teknologi informasi. Akhirnya, semoga tulisan ini menjadi inspirasi bagi semua pihak dalam menyolusikan fenomena legalisir saat ini.

(Oleh Dr. Dian Indihadi, Dosen PGSD UPI Kampus Tasikmalaya)

 







Berita & Tulisan Lainnya

Pembekalan KKN 2017 : Harus Mampu Beradaptasi

Annisa Anita D. | 06/07/2017 | Informasi, Lain-lain | No Comments   Tasikmalaya, UPI     Satgas KKN, Dwi ...

Annisa Anita D. | 08/09/2016 | Informasi, Lain-lain | No Comments  Tasikmalaya, UPI Setelah melalui serangkaian ...

« Berita & Tulisan Lainnya »

Alamat & Kontak

  • Alamat :
    Jalan Dadaha Nomor 18 Kota Tasikmalaya, Kode Pos 46115
  • Tlp/Fax :
    (0265) 331860 / (0265) 331860
  • Email :
    pgsd_tasik@upi.edu