BERITA & TULISAN
Kategori :

Eko Purwanto : Guru Melek Teknologi yang jadi Wakil Indonesia di Pentas Dunia

18/10/2016     Artikel         Administrator

Sebagai guru muda, Eko Purwanto tidak mendapat banyak jatah pelatihan dari sekolah atau dinas pendidikan, sehingga ia berusaha mencari cara agar dapat meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang guru.

Eko menghabiskan masa kecilnya di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Terlahir dari keluarga yang kurang mampu, tidak menyurutkan niat Eko untuk mengenyam pendidikan. “Kondisi ekonomi orang tua saat itu memotivasi saya untuk membantu orang tua dengan mencari uang saku sendiri,” tutur Eko kepada InfoKomputer.

Impiannya menjadi guru sebenarnya pernah di tentang oleh kedua orang tuanya. Pasalnya kehidupan guru kala itu dianggap suram “Tapi saya memaksakan kehendak orang tua untuk [tidak] menjadi guru,” ujar pria yang ketika SMA dan kuliah pernah tinggal di mesjid demi menghemat uang saku.

Eko pun akhirnya menyelesaikan pendidikan D2 guru sekolah dasar di UNS pada tahun 2007. Sambil menunggu rekrutmen guru, Eko mengabdikan dirinya dengan menjadi guru wiyata bakti, yakni guru non PNS yang mengajar di sekolah negeri.

Akhirnya setelah beberapa bulan menjadi wiyata bakti, Eko beralih pekerjaan dengan membuka counter pulsa. Namun, usaha counter ini ternyata harus gulung tikar karena uang, pulsa dan henphone dibawa kabur oleh penjaga counter. Pada tahun yang sama, dibuka pula rekrutmen guru PNS SD. Sayangnya, Eko gagal menjadi PNS.

Saat itu Eko menyadari bahwa hidup itu bukan hanya untuk mencari uang namun ada ilmu yang harus dibagikan. Akhirnya ia pun memutuskan menjadi guru wiyata bakti kembali di sekolah yang berbeda meskipun tanpa gaji. “Dengan menjadi guru, saya akan lebih bermanfaat bagi banyak orang terutama generasi masa depan,” ujar Eko.

Setelah hamper satu tahun menjadi guru wiyata bakti penuh waktu, Eko pun memutuskan melanjutkan S1 Reguler di UPI, Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Tasikmalaya. Pada tahun 2010 pemerintah membuka penerimaan PNS di berbagai daerah. Namun saat itu, hamper semua daerah menyediakan formasi S1 PGSD termasuk Kabupaten Cilacap, sedangkan ia waktu itu masih berkuliah S1 PGSD semester akhir.

Tidak kehabisan akal, Eko pun tetap mencari cara. Ia pun mendapat informasi jika Kabupaten Magelang. Ia ditempatkan di SD Negeri Wonokerto, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang sampai sekarang.

Andalkan Kelas Virtual

Sebagai guru muda yang mendapatkan fasilitas secara minim, Eko menemukan situs Microsoft Education (https://education.microsoft.com/) yang memberikan pelatihan online sekaligus menjadi forum diskusi bersama anggota komunitas pendidik internasional.

Berawal dari sini, muncul ide untuk memanfaatkan teknologi konferensi video skype. Tujuannya, memberikan memberikan pengajaran seputar sejarah serta nilai Candi Borobudur kepada murid dan guru lain yang berasal dari berbagai sekolah Indonesia.

“Melalui Skype, saya ingin menghadirkan langsung obyek tertentu ke dalam kelas tapi yang lebih nyata dan interaktif. Saya bisa menghadirkan ke siswa dengan biaya yang lebih murah, alias siswa tidak harus datang ke tempat tersebut,” terang Eko.

“Guru dan murid dapat melihat Candi Borobudur secara virtual. Saya pun dapat menjelaskan sejarah, stupa, dan relief Candi Borobudur. Hasilnya, mereka begitu antusias dengan metode ini. Pertanyaan yang diajukan [bahkan] lebih banyak daripada kelas tatap muka. Proses belajar mengajar pun menjadi lebih interaktif,” ungkap Eko.

Puncaknya di bulan Maret lalu, Eko bersama tiga guru asal Indonesia lainnya bertolak ke Budapest, Hungaria, demi mengikuti Microsoft Educator Exchange 2016. Di sana Eko berkumpul bersama ratusan guru lainnya dari seluruh dunia untuk berbagi mengenai pengalaman mengajar dengan melibatkan teknologi.

Eko bercerita, dari ratusan proposal pemanfaatan teknologi Microsoft dalam pembelajaran abad ke-21 dari seluruh Indonesia yang masuk Microsoft, terseleksi empat puluh pendidik inovatif terbaik. Sebanyak empat puluh pendidik tersebut kemudian mengikuti seleksi kembali. Akhirnya, terpilihlah empat orang pendidik, salah satunya Eko untuk berangkat ke Hungaria.

Dalam acara Educator Exchange yang diselenggarakan Microsoft selama lima hari, Eko mengikuti pelatihan teknologi Microsoft terbaru, pameran inovasi pembelajaran, kompetisi dan mengenal Hungaria.

Dasarnya senang berbagi ilmu, di sela-sela kegiatan, Eko berinisiatif untuk melakukan pembelajaran virtual. “Saya mengenalkan Hungaria dari Budapest langsung menggunakan Skype kepada 12 sekolah di Indonesia,” jelas pria yang pernah mengisi masa kecilnya dengan berjualan es lilin dan bekicot ini.

Dari Educator Exchange tersebut, Eko pun banyak mendapatkan  ilmu dan pengetahuan tentang teknologi terbaru dan inovasi pembelajaran dari sekitar tiga ratus guru yang berasal dari sekitar 275 negara di dunia “Dalam kesempatan itu saya berhasil menjadi pemenang dalam kompetisi kategori Gamify (Winner Challenge Class Hack Award Gamify Category. Red),” ujar Eko dengan bangga.

Dalam kompetisi tersebut, Eko membuat desain pembelajaran kategori game dengan memanfaatkan teknologi untuk mengatasi masalah di kelas. Syaratnya, desain tersebut harus dapat digunakan di seluruh negara.

Fasilitas TI untuk Sekolah

Sebagai seorang pengajar di daerah, Eko berharap pemerintah memiliki perhatian untuk memfasilitasi literasi guru dan fasilitas teknologi informasi sekolah. Tujuannya, meningkatkan kompetensi guru dan kualitas pembelajaran di sekolah.

Dengan keterbatasan yang ada sekarang, Eko pun bertekad akan tetap menghadirkan teknologi dalam kelas meskipun ditengah-tengah keterbatasan sarana prasarana sekolah. Pria yang hobi membaca ini pun tak menampik jika suatu saat memberikan variasi lainnya dalam pembelajaran.

Eko mengaku senang berbagi pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Salah satu pengalaman paling berkesannya adalah ketika ia berbagi kepada dosen-dosen. “Meskipun beliau memiliki gelar master, doktor dan profesor, beliau berkenan mendengarkan dengan apa yang saya bagikan. Menurut saya, hal itu yang sama sekali dulu tidak terbayangkan,” tutur Eko.

Eko pun mengaku sangat terbuka dengan berbagi teknologi. “jika ada teknologi yang lain yang bisa membantu dalam mengajar, saya tentu akan mencoba mengunakannya,” pungkas Eko.  

 

sumber: 

https://www.infokomputer.com/2016/09/profil/eko-purwanto-guru-melek-teknologi-wakil-indonesia-dunia/

 

Saat ini Eko Purwanto sedang menempuh program Magister di Postgraduate Primary School Education Shanghai University dengan beasiswa dari Pemerintah Tiongkok kerjasamam dengan Kemristekdikti

Info beasiswa : http://belmawa.ristekdikti.go.id/2016/04/01/pengumuman-tawaran-beasiswa-dari-tiongkok/







Pengumuman Lainnya »

Berita & Tulisan Lainnya

Juara 2 Beda

Annisa Anita D. | 23/05/2017 | Informasi, Lain-lain | No Comments Purwokerto, Pada 08 s.d.11 Mei 2017 ...

PBL SD Labschool UPI Tasikmalaya: Menanam Hidroponik

Annisa Anita D. | 07/04/2017 | Informasi, Lain-lain | No Comments    Tasikmalaya, UPI Kamis (06/04) SD ...

« Berita & Tulisan Lainnya »

Alamat & Kontak

  • Alamat :
    Jalan Dadaha Nomor 18 Kota Tasikmalaya, Kode Pos 46115
  • Tlp/Fax :
    (0265) 331860 / (0265) 331860
  • Email :
    pgsd_tasik@upi.edu